Hukum
Berdakwah Bagi Wanita
Kewajaran bagi wanita berdakwah tertakluk kepada syarat-syarat tertentu yang
telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Namun zaman ini, hukum telah
diperkotak-katik (diperolok-olok) oleh ustaz dan ustazah itu sendiri. Mereka
sentiasa mencari alasan dan berhujah bagi menghalalkan penampilan mereka
dikhalayak umum tanpa ada sebarang batasan pemerhatinya (yakni bercampur muslimin
dan muslimat). Memang benar wanita juga tidak terkecuali dari tanggungjawab menyampaikan dakwah namun ianya haruslah mengikut lunas-lunas hukum dan ketetapan Allah buat mereka.Cuba renung firman Allah serta hadis Rasulullah Saw di bawah:-
Dali dan Nas yang tidak membenarkan mereka berhujjah atau berdakwah dikhalayak ramai (kecuali khusus buat muslimat) adalah:
- Firman Allah Surah Al-Ahzab (Ayat 33): “Tetaplah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”.
- Firman Allah Surah An-Nur (Ayat 31) “dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka…”.
- Hadis Nabi Saw pula, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Wanita itu aurat, maka bila dia keluar rumah, syaitan terus memandanginya (untuk menghias-hiasinya dalam pandangan lelaki sehingga terjadilah fitnah).” (Dishahihkan syaikh Al-Albani dalam ShahihAt-Tirmidzi , dan syaikh Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/36)
Dan berikut ini merupakan
pendapat dari Imam
al-Albani mengenai metodedakwahnya seorang wanita :
“Saya katakan
kepada para wanita: وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ “Tetaplah
kalian di rumah-rumah kalian!”.Kalian tidak punya urusan dalam berdakwah. Saya
mengingkari (tidak menyetuji ~pent) penggunaan kata dakwah
dikalangan kawula muda, bahwa mereka termasuk yang berhak berdakwah.
Seolah-olah kata “dakwah” sebuah metode/trend masa kini. Dimana setiap orang
yang baru saja mengetahui sedikit ilmu agama, dengan serta merta menjadi
seorang da’i. Urusan ini tidak sampai disitu saja, bahkan istilah dakwah ini
menyentuh pula para muda mudi dan para ibu rumah tangga. Akibatnya, dalam
banyak kesempatan merekapun meninggalkan kewajiban dan tanggung jawab rumah
tangga, suami, dan anak-anak mereka, karena mengemban sesuatu yang bukan tugas
mereka, yaitu berdakwah. Pada dasarnya seorang wanita harus berdiam di rumah.
Tidak disyari’atkan keluar dari rumahnya kecuali untuk suatu kepentingan yang
sangat mendesak. Hal ini berdasarkan sabda Nabi صلي الله عليه وسلم:
وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَـهُنَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِي
الْمَسَاجِدِ
“…..Dan di rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka
daripada shalat di masjid-masjid.”
Sementera kita menyaksikan dizaman ini sebuah fenomena
yang merebak dikalangan wanita, mereka memperbanyak keluar ke masjid-masjid
untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Apalagi di hari Jum’at untuk shalat
Jum’at. Padahal rumah mereka lebih baik bagi mereka. Terkecuali ada sebuah
masjid disana terdapat seorang imam yang ‘alim yang mengajarkan sebagian ilmu
agama kepada para jama’ah, lalu seorang wanita keluar untuk shalat di masjid
tersebut, dan mendengar dengan seksama ilmu yang disampaikannya, maka yang demikian
itu adalah tidak mengapa. Adapun seorang wanita yang menyibukkan dirinya dengan
berdakwah (maka kami katakan ~pent), hendaklah ia tinggal dirumahnya
dan membaca kitab-kitab yang telah disiapkan oleh suami, saudara, atau sanak
keluarganya. Kemudian tidak mengapa jika suatu hari ia mengajak dan mengundang
para wanita untuk hadir di rumahnya atau ia yang keluar, kerumah salah seorang
di antara mereka. Yang demikian itu lebih baik daripada keluarnya sekelompok
wanita kepadanya. Adapun keluarnya seorang wanita atau melakukan perjalanan
jauh yang terkadang tanpa ditemani oleh mahramnya dengan berdalihkan “dakwah”,
ini adalah salah satu dari bid’ah-bid’ah zaman ini. Masalah ini tidak hanya
khusus bagi wanita saja, bahkan juga bagi para pemuda yang menjadikan hobby
mereka berbicara dalam masalah dakwah, sementara ilmu mereka masih sangat
dangkal.”
Jadi dimanakah
kewajaran untuk wanita berdakwah dikhalayak ramai lebih-lebih lagi di hadapan
lelaki yang bukan mahramnya? Perkara ini telah dinafikan oleh pendakwah wanita
kerana mereka berasa mereka mempunyai hak yang sama sebagaimana kaum lelaki.Sekarang mari coba kita renung seputar tentang sejarah isteri-isteri Nabi, mereka tidak pernah muncul dikhalayak ramai berdakwah. Mereka berdakwah hanya kepada muslimat sahaja dan ianya tertutup dari kaum lelaki. Jika isteri para nabi tidak berani muncul dikhalayak ramai (kerana bimbang fitnah dan kata nesta dari umum), walaupun bertujuan baik yakni menyampaikan risalah Allah, bagaimana dengan kita hari ini? Para isteri nabi telah menunjukkan sunnah mereka yang menyandarkan sepenuh harapan terhadap kaum lelaki bagi menyampaikan dakwah secara meluas. Memadailah mereka berdakwah kepada muslimat sahaja kerana ia mampu menghindari mereka dari fitnah manusia yang jahat.
Namun kecuali jika tempat atau mukim berkenaan memang tiada pendakwah lelaki (ustaz), then barulah hukum harus bagi pendakwah wanita (ustazah) itu berdakwah di tempat berkenaan.
Sumber :

0 komentar:
Posting Komentar